Untung Atau Buntung? #PutusinAja Rokoknya, Selamatkan Keluarga dari Covid-19

Grafis: Penulis

"Paaak, bau asap rokok, aku nggak bisa napas ini. Jangan merokok di dalam rumah, sesak napas rasanya ini! Buang saja rokoknya!"

        Teriakku kesal kepada bapak, asap rokoknya yang mengepul tebal di dalam rumah tanpa permisi membuatku sesak napas. Meskipun aku berada di dalam kamar, masih saja aroma asap itu membius pernapasanku, membuat dadaku sesak. Bukan hanya sekali, namun berkali kali perilakunya yang susah diberi tahu tentang bahayanya merokok. Bukan pula hanya satu batang, bisa-bisa satu bungkus habis dalam semalam saja. Sungguh perilakunya membuatku mengelus dada. Tiap pagi, siang, sore, malam tiada henti tanpa menghisap tembakau beracun itu. Sedih rasanya, "Katanya sayang keluarga? Tapi kenapa masih saja merokok? Itu sama saja membunuh keluarga secara perlahan." gumamku dalam hati mengingat ada ibu yang memiliki penyakit asma. Kekhawatiranku semakin meningkat karena ada banyak manusia di rumah yang perlu selamat dari asap rokok, terutama ibu. Bapak memang orang yang sangat sulit diberi nasehat demi kebaikannya. Seperti tidak ada kamus dalam hidupnya untuk berhenti merokok. Sebenarnya beliau sudah paham betul bahayanya rokok, di setiap sudut kota pun selalu terpampang reklame "Merokok dapat menyebabkan serangan jantung". Hal yang membuat aku heran, kenapa beliau tidak takut dengan ancaman itu. Beliau pun sangat mengerti perokok pasif akan sangat berbahaya, artinya keluarganyalah yang terancam karena ulah beliau sendiri. Aku pun tidak pernah berhenti untuk selalu protes kepada beliau agar berhenti merokok. Alih-alih berhenti merokok, bapak hanya berpindah tempat untuk melanjutkan merokok, dari yang mulanya merokok di dalam rumah, berpindah ke luar rumah bahkan ke pos satpam. Duh duh, aku jadi bingung mau menasehati dengan cara apa lagi. 
        Hingga akhirnya di awal tahun 2020 ini Indonesia digemparkan dengan mewabahnya Covid-19 yang hingga kini masih ramai diperbincangkan. Bukan karena apa, keganasannya yang mampu mematikan setiap manusia yang terjangkit membuat Covid-19 menjadi momok. Sejalan dengan terus bertambahnya korban yang terjangkit Covid-19, membuat bapak tersentak berkaca kepada dirinya sendiri. Memang di awal gemparnya berita Covid-19 di mana-mana tetap saja membuat bapak santai dengan merasa akan baik-baik saja meskipun terus merokok di tengah pandemi ini. Berbagai informasi mengenai Covid-19 hanya diabaikan begitu saja olehnya. Merokok masih saja dilakukan oleh beliau, tidak ada pengurangan kuantitas jumlah rokok yang dihisapnya.  Namun beliau tiba-tiba tersadarkan oleh sebuah berita yang menginformasikan bahwa salah satu manusia yang rentan tertular Covid-19 adalah seorang perokok. Perjalanan baru dimulai dari sini. 
        Dikutip dari kompas.com, dr Sumarjati Arjoso, Ketua Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) mengemukakan fakta berdasarkan hasil suatu penelitian didapatkan bahwa perokok punya resiko 14 kali terjangkit Covid-19, resiko gejala 2,4 kali lebih parah apabila terinveksi Covid-19. Tentu saja itu masuk akal, karena perokok tanpa dia sadari dia sudah merusak paru-paru sendiri lebih awal sebelum terjangkit Covid-19. Secara logika bisa dimaknai dengan apabila paru-paru sudah rusak, Covid-19 akan sangat lebih mudah menyerangnya. Alih-alih bergejala ringan saat terinfeksi, melainkan perokok akan memiliki gejala yang lebih parah. Hal itu diperkuat dengan ungkapan dr Frans Abednego Barus, Sp.P, dokter spesialis paru di Talkshow Ruang Publik KBR pada tanggal 20 Mei 2020 bertema Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19. Beliau berkata bahwa  
"Setiap asap rokok yang dihirup ke dalam paru akan merusak bangunan saluran nafas yang memiliki daya tahan mekanik yakni rambut-rambut halus (silia) untuk mengusir kuman dan mengarahkan dahak untuk dikeluarkan lebih mudah di saluran napas. Daya tahan kimia akan berkurang di sepanjang saluran napas."
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bawa seorang perokok akan lebih mudah terserang Covid-19 karena rambut-rambut halus yang ada pada paru-paru akan menipis dan akhirnya hilang. Hal itu menyebabkan tidak adanya filter pada paru-paru yang dapat menyaring kotoran saat bernapas, maka tidak salah apablia virus corona dapat dengan mudah menguasai tubuh perokok. Pun sama halnya dengan perokok pasif yang sering menghirup asap rokok. Itulah mengapa pria lebih rentan terjangkit Covid-19, karena kebiasaan buruk yakni merokok. Namun tidak menutup kemungkinan perempuan yang merokok juga dapat terserang Covid-19 karena kebiasaan buruk itu. Anak-anak menjadi orang yang rendah resikonya terjangkit Covid-19 apabila tidak merokok, karena daya tahan mekanik dan kimia paru-parunya masih berfungsi dengan baik. Beda halnya apabila anak-anak tersebut menjadi perokok pasif yang terus menerus mengkonsumsi asap rokok, jelas saja paru-parunya akan rusak dan alhasil mereka dapat terinfeksi Covid-19.
        Hal lain yang perlu diketahui yakni Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), protein yang lebih banyak diproduksi di paru-paru dapat mengikat Covid-19 untuk menyebar ke sel seluruh tubuh. Nahasnya, lagi-lagi perokok menjadi sala satu orang yang masuk ke dalam lingkaran hitam dalam mengembangkannya Covid-19 di dalam tubuh. Pasalnya, rokok dapat meningkatkan produksi ACE2 yang artinya perokok dapat dengan muda terjangkit Covid-19. Dikutip health.grid.id, WHO menyebutkan bahwa merokok menjadi penyumbang besar kematian manusia akibat Covid-19 di Indonesia. Terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa dari 9.025 pasien Covid-19, terdapat 17,8% perokok yang mengalami kondisi buruk, sedangkan 9,3% bukanlah perokok. Berdasarkan data tersebut, sudah jelas bahwa perokok sangat rentang mengalami kesakitan yang parah bila terjangkit Covid-19. 
        Sayangnya Indonesia masih belum memberi transparansi siapa saja tipe orang yang rentan terjangkit Covid-19. Lamban laun melihat dampak Covid-19 yang sangat kejam bagi kesehatan tubuh, apalagi untuk seorang perokok, membuat Bapak semakin terpacu untuk mengetahui informasi sejenis dan berlatih untuk mengurangi kuantitas merokoknya, meskipun belum sepenuhnya lepas dari merokok. Melihat tingginya jumlah perokok terjangkit Covid-19 dan akhirnya meninggal dunia, maka Indonesia perlu mengambil langkah tegas dalam pencegahan penyebaran Covid-19 melalui rokok. Cara yang paling dasar yakni mengendalikan produksi tembakau, yang merupakan bahan utama pembuatan rokok. Lagi-lagi disayangkan, Indonesia masih belum melakukan pengendalian tembakau dalam situasi buruk Covid-19. 
        Masih dikutip dari Kantor Berita Radio (KBR) menurut Nina Samidi, manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau di Talkshow Ruang Publik KBR pada tanggal 20 Mei 2020 bertema Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19, bahwa 
"Pengendalian tembakau di Indonesia masih sangat lemah apabila dibandingkan dengan negara lain. Gerakan Masyarakat Hidup sehat (GERMAS) sudah ada tapi tidak berjalan sepenuhnya karena kesadaran diri masyarakat rendah. Pengendalian tembakau sangat dibutuhkan pada langkah-langkah penanganan Covid-19." 
Salah satu faktor yang menjadikan masih banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi tembakau dalam bentuk rokok yakni karena harga rokok yang murah. Selain menunggu peraturan dari pemerintah mengatur mengenai pengendalian tembakau, hal utama yang harus dilakukan yaitu kesadaran dalam diri masyarakat itu sendiri untuk menjaga kesehatan tubuhnya yakni berhenti merokok. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk saat ini sangat dibutuhkan dalam menekan penyebaran Covid-19. Siapa lagi yang akan menyelamatkan bumi pertiwi ini jika bukan dari anak cucunya sendiri? Akan menjadi lelucon apabila pemerintah bekerja keras memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tetapi masyarakat masih susah untuk mematuhi aturan. Kesadaran diri untuk tidak merokok masih sangat rendah. Masyarakat masih egois atas kesejahteraan bersama, lebih mengutamakan kesenangan pribadi, merokok tanpa memikirkan ancaman Covid-19 pada manusia di sekitarnya yakni perokok pasif.  
        Syukur aku ungkapkan, bapak kini mulai sadar akan bahayanya merokok di masa pandemi ini, yang bisa merenggut nyawanya dan juga keluarga yang dicintainya. Ternyata rasa sayangnya kepada keluarga masih sangat besar, hingga akhirnya beliau berani mengambil keputusan untuk meninggalkan kesenangannya itu dan berniat selalu menjaga kesehatan. Aku mendapatkan hikmah di balik ini semua, terkadang seseorang akan tersadarkan oleh suatu peristiwa yang mampu membuatnya berubah menjadi lebih baik. Sebenarnya semua pilihan ada di pribadi masing-masing, ingin untung atau buntung. Covid-19 memberi peringatan untuk kita semua agar selalu menjaga kesehatan, pun dengan negara Indonesia. Covid-19 memberi terguran kepada negara ini untuk #PutusinAja memulai pengendalian terhadap tembakau guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan menekan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Terlepas dari hal itu, guna mencetak generasi emas di tahun-tahun mendatang, perlu ada peraturan pengendalian tembakau agar generasi muda tidak merokok dan guna mewujudkan Indonesia sehat. Aku secara pribadi mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk #PutusinAja ketergantungan merokok demi kesehatan kita bersama, karena perokok aktif maupun pasif sama-sama memiliki ancaman terserang Covid-19. Pilihan ada di tangan masing-masing, sayangi keluargamu atau lenyap dari dunia ini karena ulah konyol itu. Jangan sampai status positif Covid-19 tersematkan kepada kita, mari bersama melawan Corona! Indonesia bebas Covid-19!

"Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini."


Referensi: 
Talkshow Ruang Publik KBR pada tanggal 20 Mei 2020 bertema Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=6ZeyknQj-Qo pada 02 Juni 2020

Uly, Y.A. 2020. Ini Alasan Perokok Sangat Rentan Terinfeksi Covid-19. Diakses dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/14/181800023/ini-alasan-perokok-sangat-rentan-terinfeksi-covid-19 pada 03 Juni 2020

Hartono, S.H. 2020. WHO Sebut Jumlah Perokok Sumbang Kematian Tinggi Pasien Covid-19 di Indonesia. Diakses dari  https://health.grid.id/read/352178251/who-sebut-jumlah-perokok-sumbang-kematian-tinggi-pasien-covid-19-di-indonesia?page=all pada 03 Juni 2020

Komentar