Berkah Ramadan, Lulus Sidang di Tengah Pandemi COVID-19


Hai teman-teman, bagaimana kabar kalian di pertengahan tahun ini? Semoga selalu sehat dan baik yaa hehe. Oke, aku mau benrbagi sedikit cerita tentang perjalananku menuntaskan pendidikan strata satuku ini. Kata orang, skripsi itu berat banget untuk diselesaikan. Nah, apakah itu juga yang aku rasakan? Langsung aja aku ceritakan, semua berawal dari kepusinganku memikirkan akan seperti apa akhir dari pendidikanku saat ini? Waktu itu aku masih melakukan praktik kerja di sebuah industri, fokusku saat itu hanya untuk menuntaskan program magang tersebut. Tak terlalu sulit aku lalui masa itu. Hingga akhirnya aku mengumpulkan laporan hasil magangku itu. Terlontarkan pertanyaan dari dosen pembimbing program magangku waktu itu, "Jadi bagaimana skripsimu? Apa sudah punya judul?". Teng teng!! Nah loh, baru saja selesai program magang, eh sudah ditanya masalah skripsi saja hehehe. Pertanyaan itu hanya berputar-putar saja di pikiranku, belum sempat aku eksekusi. Benar saja, skripsi bukanlah fokusku saat itu, melainkan program praktik kerja lapangan yang dalam waktu dekat akan dilaksanakan. Tak ada waktu bagiku untuk berpikir tentang skripsi hingga akarnya, karena semua waktuku benar-benar tersita dengan kesibukan praktik kerja tersebut. Namun hal berbeda diekspresikan oleh ibuku. Ya, ibuku selalu berpesan kepadaku untuk segera memproses skripsi secepatnya, niat beliau yaitu selagi aku praktik kerja dapat melakukan penelitian sekaligus. Sebenarnya bukan hanya sekali pesan itu aku dapatkan, aku sudah sangat familiar dengan pesan itu. Ya, wajar saja ibuku adalah guru, sudah pasti mengerti dan dapat memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan skripsi hingga akhir. Bukannya aku menolak pesan itu, tapi apa daya aku benar-benar tak memiliki waktu luang untuk memikirkan skripsi. Ya akhirnya semua berlalu begitu saja. Hingga pada suatu ketika, di penghujung akhir aku praktik kerja, aku mendengar ada beberapa temanku yang sudah memiliki judul skripsi dan telah disetujui untuk diteliti. Wow, itu adalah satu gebrakan bagiku untuk bergerak lebih jauh lagi karena aku menyadari ketertinggalanku itu. Seakan tak ingin melewatkan kesempatan, beberapa hari aku merenung memikirkan judul skripsi yang akan aku ambil, mencari literatur di berbagai jurnal. Harus aku akui, syukur alhamdulillah tak butuh waktu lama, aku mendapatkan pencerahan satu judul. Selepas itu, aku seakan mencambuk diriku sendiri untuk melesat mengejar ketertinggalan. Mencuri waktu saat praktik kerja untuk pergi ke kampus, tak lagi aku anggap sebagai masalah besar. Prinsipku yaitu setidaknya aku harus sudah memiliki judul skripsi untuk aku olah. Saat itu aku tahu betul kondisi kesehatan badanku saat berada di tempat praktik, tak lagi aku hiraukan. Aku tetap pergi ke kampus untuk mengajukan pendaftaran judul. Nahasnya nasibku waktu itu, dosen yang aku tuju untuk mendaftarkan judul, tak ada di tempat. Aku harus berlari menuju gedung di mana dosenku berada. Jaraknya cukup jauh dari fakultasku. "Tak apalah, aku harus mengejar beliau, aku tak punya banyak waktu lagi" ucapku waktu itu. Alhasil, hasilnya nihil. Aku pun tak kunjung bertemu dengan dosen yang aku maksud. Tak ada lagi alasanku untuk terus menunggu ketidakpastian itu. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat praktik dan memutuskan untuk mengurus judulku esok hari. Singkat cerita, aku kembali mengunjungi kantor dosenku esok harinya, dan lagi-lagi aku tak berjumpa dengan dosen itu. Aku memutuskan untuk meletakkan berkas pendaftaran judulku pada meja kerja beliau. Berhari-hari aku menunggu kabar status penerimaan judulku, dan akhirnya...


Komentar